Jika intelek berjuang dengan seluruh kemampuannya, namun tidak mampu memahami sesuatu, mengapa dia harus menghentikan usahanya? Apabila intelek menghentikan upaya karena tidak mencapai pemahaman, maka dia bukan intelek. Karena intelek berusaha siang dan malam, tanpa istirahat, menyibukan dirinya dengan pikiran untuk memahami sang Pencipta. Bahkan apabila Dia mustahil dipahami dan dibayangkan sekalipun.
Intelek itu seperti laron dan kekasih Ilahinya bagaikan lilin. Ketika laron menerbangkan dirinya menuju lilin, tak dapat dielakkan lagi dia terbakar dan hancur. Laron tentu tidak akan mampu menahan nyala lilin, tapi dia tidak peduli. Dia rela menderita terbakar dengan seluruh rasa sakit yang ia rasakan. Binatang apa pun yang tidak mampu menahan nyala lilin dan menerbangkan dirinya kepada nyala itu adalah “laron”. Dan lilin, tempat laron melemparkan diri padanya, tetapi tidak membakar laron, ia bukanlah “lilin”.
Maka manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang Tuhan dan tidak berusaha dengan segala kemampuannya untuk memahami Tuhan, ia bukanlah manusia. Tuhan yang dapat dipahami seseorang bukanlah Tuhan. Manusia yang sejati tak akan pernah berhenti berusaha. Dia menunggu tiada henti disekitar “cahaya” Tuhan yang mengagumkan. “Tuhan” adalah lilin yang “membakar” manusia dan terus menariknya agar lebih dekat. Tapi kedekatan itu tak terpahami oleh intelek.
(Jallaludin Rumi)
Intelek itu seperti laron dan kekasih Ilahinya bagaikan lilin. Ketika laron menerbangkan dirinya menuju lilin, tak dapat dielakkan lagi dia terbakar dan hancur. Laron tentu tidak akan mampu menahan nyala lilin, tapi dia tidak peduli. Dia rela menderita terbakar dengan seluruh rasa sakit yang ia rasakan. Binatang apa pun yang tidak mampu menahan nyala lilin dan menerbangkan dirinya kepada nyala itu adalah “laron”. Dan lilin, tempat laron melemparkan diri padanya, tetapi tidak membakar laron, ia bukanlah “lilin”.
Maka manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang Tuhan dan tidak berusaha dengan segala kemampuannya untuk memahami Tuhan, ia bukanlah manusia. Tuhan yang dapat dipahami seseorang bukanlah Tuhan. Manusia yang sejati tak akan pernah berhenti berusaha. Dia menunggu tiada henti disekitar “cahaya” Tuhan yang mengagumkan. “Tuhan” adalah lilin yang “membakar” manusia dan terus menariknya agar lebih dekat. Tapi kedekatan itu tak terpahami oleh intelek.
(Jallaludin Rumi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar