Selasa, 17 Februari 2009

MUNAFIK

Celakalah orang munafik yang meremehkan dirinya sendiri, dengan berpura-pura menjadi seorang zahid! sesungguhnya, kehinaannya terletak pada kepura-puraannya. Mengapa dia harus menghina eksistensinya?. Seandainya dia menyadari eksistensinya sendiri meskipun sebagai orang munafik dan bukan mengingkarinya, kesadaran akan hakikatnya sendiri bisa menyeimbangkan niat buruknya dan mungkin dapat menyelamatkannya dari siksa Akhirat.
(Muhyiddin Ibn 'Arabi)

RATAPAN KESEDIHAN

Suatu ketika Tuhan berkata, “Hai pelayanku! Aku sanggup untuk segera mengabulkan permintaan yang kamu pintakan dalam shalatmu, tetapi ratapan kesedihanmu lebih aku sukai. Tanggapan dari Ku muncul terlambat agar engkau terus meratap lebih banyak lagi dan memohon lebih kerap lagi. Aku sangat menikmati bunyi ratapan dari permohonanmu.”

Sebagai contoh, dua pengemis datang pada seseorang. Pengemis yang satu ramah sekali dan menyayangi tuan rumah, tetapi yang lainnya menjijikan. Sang tuan rumah berkata pada pelayannya, “Cepat berikan sekerat roti kepada lelaki menjijikan itu hingga dia pergi dari rumah kita secepat mungkin. Katakan kepada yang lainnya, pengemis yang berlaku baik, bahwa roti kita belum dibakar dan dia mesti menunggu sampai roti itu siap!”
(Jalalludin Rumi)

TIRAI

Orang sekedar melihat penyebab kedua dan mengetahui segala hal melalui penyebab kedua itu. Meski begitu, bagi orang suci, terungkapkan bahwa penyebab kedua tidak lain hanyalah “hijab” yang menjaga orang untuk melihat dan mengetahui Penyebab Utama. Itu seperti seseorang berbicara dari belakang layar dan orang berpikir bahwa layar itu sendiri yang berbicara. Maka, ketika orang suci melihat hal seperti itu, mereka sadar bahwa penyebab kedua adalah perantara, bahwa penyebab adalah hal lain. Penyebab kedua tiada lain “wol diatas mata” untuk menyibukkan orang biasa.
(Jalalludin Rumi)

CERMIN

Dalam sebuah alegori yang dirujuk Rumi didalam Fihi ma fihi (bagian 50) dan lebih rinci lagi dijelaskan dalam Mastsnawi (I, 3157 dst), Nabi Yusuf As, putra Nabi Yakub As, menerima sahabat lama yang baru saja kembali dari perjalanan panjang. Ketika ditanyai hadiah yang telah dibawa dari perjalanannya, sang sahabat menjawab bahwa dia mencari ke mana-mana hadiah untuk Yusuf, tetapi tidak mampu menemukan apa pun yang sesuai karena tidak ada sesuatu pun yang tidak dimiliki Yusuf. Akhirnya dia menyadari bahwa satu-satunya hadiah yang pantas bagi Yusuf adalah cermin yang mampu memantulkan keindahan Yusuf.

Serupa dengan cerita itu, suatu ketika manusia akan ditanyai Tuhan tentang hadiah apa yang akan dibawanya dari persinggahan di dunia ini. Satu-satunya jawaban yang mampu dibuat manusia tanpa akan menjadikan rasa kehinaan adalah menghadiahi Tuhan dengan cermin mengkilap sempurna. Cermin itu akan memantulkan keindahan Tuhan yang luar biasa. Cermin itu adalah hati manusia. Ketika sambungan material perunggu dan lapisan karat pada hasrat dirinya dilenyapkan dari permukaan cermin hati, maka hati manusia akan mampu memantulkan keindahan Ilahi. Cermin keberadaan manusia lantas dapat menahan untuk melawan sinar yang muncul dari Ketuhanan. Dan tujuan Tuhan didalam penciptaan kemudian akan terselesaikan, karena Tuhan lantas akan mampu melihat pantulan diri-Nya dan mengetahui diri-Nya.
(Jalalludin Rumi)

Jumat, 06 Februari 2009

INTELEK

Jika intelek berjuang dengan seluruh kemampuannya, namun tidak mampu memahami sesuatu, mengapa dia harus menghentikan usahanya? Apabila intelek menghentikan upaya karena tidak mencapai pemahaman, maka dia bukan intelek. Karena intelek berusaha siang dan malam, tanpa istirahat, menyibukan dirinya dengan pikiran untuk memahami sang Pencipta. Bahkan apabila Dia mustahil dipahami dan dibayangkan sekalipun.

Intelek itu seperti laron dan kekasih Ilahinya bagaikan lilin. Ketika laron menerbangkan dirinya menuju lilin, tak dapat dielakkan lagi dia terbakar dan hancur. Laron tentu tidak akan mampu menahan nyala lilin, tapi dia tidak peduli. Dia rela menderita terbakar dengan seluruh rasa sakit yang ia rasakan. Binatang apa pun yang tidak mampu menahan nyala lilin dan menerbangkan dirinya kepada nyala itu adalah “laron”. Dan lilin, tempat laron melemparkan diri padanya, tetapi tidak membakar laron, ia bukanlah “lilin”.

Maka manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang Tuhan dan tidak berusaha dengan segala kemampuannya untuk memahami Tuhan, ia bukanlah manusia. Tuhan yang dapat dipahami seseorang bukanlah Tuhan. Manusia yang sejati tak akan pernah berhenti berusaha. Dia menunggu tiada henti disekitar “cahaya” Tuhan yang mengagumkan. “Tuhan” adalah lilin yang “membakar” manusia dan terus menariknya agar lebih dekat. Tapi kedekatan itu tak terpahami oleh intelek.
(Jallaludin Rumi)

Jumat, 30 Januari 2009

SATU CINTA

Di mana pun engkau berada, dan di dalam keadaan apa pun, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjadi seorang pecinta. Ketika cinta datang dan menjadi milikmu, engkau akan selalu menjadi pecinta - di dalam kuburan, saat kebangkitan, di surga, selamanya menjadi pecinta.

Ketika engkau menanam gandum, yakinlah bahwa gandum akan tumbuh. Dan bahwa gandum akan tetap sama, baik didalam lumbung ataupun didalam oven.

Majnun ingin menulis surat kepada Layla. Dia mengambil pena dan menuliskan bait ini :

Bayanganmu berada dalam mataku, namamu dalam mulutku
Ingatan kepadamu ada dalam hatiku.
Dimana lagi aku harus menulis?

Yakni, bayanganmu tinggal didalam mataku, namamu tidak pernah lepas dari mulutku, ingatanmu memiliki tempatnya dikedalaman jiwaku. Karena engkau bebas berkelana ditempat-tempat ini, kemana lagi aku harus mengalamatkan surat? setelah itu Majnun mematahkan penanya dan menyobek-nyobek kertas surat tersebut.
(Jalalludin Rumi)

SATU TUJUAN

Ada satu hal didunia ini yang tidak boleh dilupakan. Engkau boleh melupakan apa pun kecuali satu hal. Apabila mengingat semua hal lain tetapi melupakan satu hal itu, engkau tidak akan dapat menyelesaikan apa pun.

Itu seperti seorang raja yang mengirim engkau kekampung dengan tujuan tertentu, engkau pergi dan melakukan ratusan tugas lain. Apabila menolak menyelesaikan tugas utama yang untuk itu engkau dikirim, berarti engkau tidak melakukan apa-apa.

Dan manusia muncul didunia ini untuk tujuan dan maksud tertentu. Apabila tidak memenuhi maksud itu, dia tidak melakukan apa pun. (Jalaluddin Rumi)

Membaca ungkapan diatas membuat diri ini menjadi berfikir. Sebenarnya untuk apa aku ini dianugrahi kehidupan?