Minggu, 24 Oktober 2010

EDISI 6

Tatkala jingga menjadi merah
itu tanda jarak terjadi karena ada gerak yang semakin menjauh
semakin merah maka ia akan hilang ditelan sang hitam
pergi dan tak berbekas...

Tak lelahkah kau meratap?
Tak bosankah kau mentertawai kesedihan?
Tak inginkah kau berhenti menangisi kebahagian?

untuk rasa muak itu...
tak hanya ingin menggadaikannya ataupun hanya menukarkannya
jika dapat aku ingin membuangnya
meninggalkannya dengan senyuman penuh kebebasan tanpa beban masa lalu
tertawa terbahak-bahak dan berlalu dengan lepas...

Karena...
aku ingin bersatu dengan keindahan taman pagi ini
dengan hiburan kepakan-kepakan cantik sayap kupu-kupu
sambil menyaksikan proses penyerbukan bunga tulip belanda
dan melihat bunga mawar merah tersenyum merekah
yang tersebar tak beraturan dengan konfigurasi warna yang memukau...

Rabu, 20 Oktober 2010

EDISI 5

Rasa yang tak berasa
warna-warni ini tak lebih sekedar hitam dan putih
seperti kehilangan sesuatu yang tak kumiliki

Semuanya hambar
hilang dalam makna
kosong pada pikiran
hapus dari jejak

bukan hening tapi hampa
bukan diam tapi sepi
bukan tenang tapi lemah

jika muslim kenapa seperti majusi
jika esa kenapa seperti pagan
jika suci kenapa seperti firaun

tak ingin menyentuh bunga
khawatir jika sentuhan tanganku membuatnya layu, kering dan mati
lama sudah jiwa bergumul pada masa ini
ahhh... akankah ku mengakhiri buku kehidupan dalam tusukan rasa ini...

Sabtu, 11 September 2010

Kesaksian I

Langkah kakinya gontai
Rambutnya telah memutih
Sorot matanya lelah
Pendengarannya tak lagi sempurna
Usianya telah menginjak 65 tahun
Nafasnya sulit dan terasa berat
Pinggang itu hampir tak mampu menopang berat badannya
sehingga nampak bungkuk dan terasa menyakitkan

Namun kenginannya untuk berdiri tegak dalam sholat
dan menyatukan keningnya dengan tanah
sangat menggetarkan hatiku....

Ia telah pergi melampaui dunia pengetahuan
dan menembus batas sikap percaya

Ia telah berada pada dunia selanjutnya yaitu dunia keyakinan
sebuah dunia yang telah menuangkan dan mengisi cawan hatinya
hanya untuk Tuhan yang tunggal, pemilik seluruh energi alam semesta....

Dibalik sinar wajahnya tersimpan hasrat
hasrat untuk menemui Kekasih hatinya
Kekasih hati yang telah memberinya kekuatan pada batas nadir kelemahannya...

Sore ini...
terasa sangat sempurna untuk jiwa ini
jiwa yang kering karena tak pernah berkontemplasi
untuk meluruhkan karat-karat dan membersihkan permukaan cermin hati

Dada ini terasa sesak, mengalami ini...

Ketika...
Membantunya memakaikan sarung
membantunya memakaikan kemeja koko
Membantunya mengancingkan kancing-kancing bajunya
memberikannya peci untuk dikenakannya...

Sambil menepuk pundakku ini
Ia berkata "Keseimbangan fisik adalah sesuatu yang telah hilang dari hidupnya"

Seketika itu pula
jiwa ini merasa bahwa hatiku bergetar
karena rohku bertanya pada diriku sendiri
"Kau kemanakan keseimbangan fisikmu selama ini, sudahkah kau gunakan untuk berdiri tegak dalam sholat?"
"Jika tak kau gunakan secara sempurna, bukankah ia lebih memerlukannya?"

* untuk Tasun Sudiono, kakekku yang mengajarkanku dengan contoh sikap bagaimana
mencintai Tuhan dan tidak ada Tuhan selain Allah SWT...

Jumat, 13 Agustus 2010

EDISI 4

Jika pada negeri tropis terdapat dua musim
mengapa musim hujan ini tak juga berakhir
lalu kemana musim panas itu memberi kehangatan

Matahari karena titah Tuhan
tetap pada takdirnya
ada pada tempatnya
pada fungsinya

Jika tanya tidak cukup...
bagaimana caraku mendapat jawab...
Bicaralah...
kumohon bicaralah...

Bukankah para pendosa yang harus menutup mata di tiang gantung itu
mengetahui mengapa ia layak untuk mati

Dan apakah dirimu masih menyangsikan keluasan dari jiwaku
keluasan yang tak dapat kau lihat dengan sempitnya mata duniamu itu...

Jumat, 02 Juli 2010

EDISI 3

Aku sedang membara
kenapa tak kau siram aku dengan minyak
jangan tawari aku air
karena pertemuan api dengan air
tak membahagiakan diriku saat ini....

Jiwaku tersentak
saat tangan takdir itu menarik tangannya
memaksanya untuk melepaskan genggaman tangannya
genggamannya dari tangan hatiku....

Malam yang sangat syahdu, bagi jiwa yang hampa
berharap mentari esok akan menghapus jejak-jejak langkah kaki kesedihan, pada tanah basah karena hujan sore ini

wahai buta, kenapa tak jua kau melihat....
wahai tuli, kenapa tak jua kau mendengar....
wahai bisu, kenapa tak jua kau bicara....

Obor kehidupan menyala karena nyala api
meski kini kau jauh, bukankah ia masih bersinar
jika hidupmu dikelilingi bukit-bukit berbaris
pergilah mendaki gunung atau
berlarilah ke pantai

karena di tempat-tempat itulah horison dapat terlihat....

EDISI 2

Ada yang terasa aneh dari dalam jiwaku ini?....
sebuah rasa yang hanya dapat diungkapkan oleh rasa...
tetapi tidak dapat diucap lewat suatu kata ungkapan....

Aku merasa.....
Sinar Mentari tak terasa hangat jika sinarnya tidak menyinari dirimu
Cahaya bulan tak terlihat anggun jika cahayanya tidak menyinarimu
Kemilau bintang tak terlihat gemintang jika ia tidak bersinar dari kilauan matamu

Aku merasa....
Bosan untuk terus melihat bayanganmu
Jenuh berada dibalik tirai dengan mengetahui ada dirimu dibaliknya
Aku ingin setiap saat, Senantiasa, terus menerus dan tidak ingin berpisah, hanya ingin berada di dalam dirimu

Aku tak ingin berada dibalik jeruji penjara ini....
menjadi narapidana karena hasrat ini....
karena itu bebaskan aku dari rasa ini.....
bebaskanlahhhh....

Muncul dan Keluarlah dari balik tirai
raih tanganku, gemgam erat dan jangan kau lepaskan
Kini tersenyumlah seperti senyuman layla yang membuat majnun menjadi gila
tersenyum dan biarkan bunga-bunga itu cemburu karena semua lebah berpaling darinya dan menghampiri dirimu

Aku memang tak memiliki cincin sulaiman as
Akupun tak memiliki rupa yusuf as
tak memiliki kesabaran ayub as
ataupun kebijaksanaan muhammad saw

Namun karena hasrat ini, tak layakkah diriku menjadi pasangan dansamu?....

EDISI 1

Dipersimpangan jalan langkahku terhenti,
Lututku seperti terpaku dibumi tak dapat bergerak,
Dalam kebimbangan aku menatap....

Tergoda aku untuk mengintip tulisan Tuhan dalam buku harian-Nya,
apakah kita akan bersanding bersama dalam altar dan simpul suci....

Hati adalah tempat,
dan ingin kusandarkan logikaku padanya,
merantai nafsuku dengan ilmu penyuci jiwa...

Denganmu aku merasakan bahagia dan siksaan,
bahagia dengan anugrah rasa yang Tuhan berikan,
tersiksa karena kau biarkan mata-mata jahat dunia menikmati kecantikanmu dan kau pun menikmatinya..

Engkau adalah permata surga yang hadir dibumi,
masih dalam bentuk sempurna,
bahkan lapisan atmosfer pun tak dapat meluruhkan kemilau kecantikanmu,
aku seperti burung yang memandangmu membuatku kehilangan kedua sayapku,
jatuh menghujam ditarik gravitasi bumi,
terpental dari jurang terjal bebatuan,
lalu masuk kedalam aliran sungai yang deras,
dan bersemayam dalam dekapan lumpur hitam yang mengental....

Aku merasakan sakit,
tapi apakah aku akan menangis, meringis, dan menyesal
tidak jawabku
"Aku merasa bahagia......"

Telah ku paku hatiku dengan dirimu,
ketika kini ingin kulepaskan paku itu, apakah ini akan berakhir begitu saja?....
tidak jawabku
kini dihatiku ada bekas guratan dan lubang yang mengangga,
Seperti sepatu cinderela yang hanya dapat dipakai oleh cinderela,
kau tarik saja kesimpulan akhir dari cerita ini.............