Dalam sebuah alegori yang dirujuk Rumi didalam Fihi ma fihi (bagian 50) dan lebih rinci lagi dijelaskan dalam Mastsnawi (I, 3157 dst), Nabi Yusuf As, putra Nabi Yakub As, menerima sahabat lama yang baru saja kembali dari perjalanan panjang. Ketika ditanyai hadiah yang telah dibawa dari perjalanannya, sang sahabat menjawab bahwa dia mencari ke mana-mana hadiah untuk Yusuf, tetapi tidak mampu menemukan apa pun yang sesuai karena tidak ada sesuatu pun yang tidak dimiliki Yusuf. Akhirnya dia menyadari bahwa satu-satunya hadiah yang pantas bagi Yusuf adalah cermin yang mampu memantulkan keindahan Yusuf.
Serupa dengan cerita itu, suatu ketika manusia akan ditanyai Tuhan tentang hadiah apa yang akan dibawanya dari persinggahan di dunia ini. Satu-satunya jawaban yang mampu dibuat manusia tanpa akan menjadikan rasa kehinaan adalah menghadiahi Tuhan dengan cermin mengkilap sempurna. Cermin itu akan memantulkan keindahan Tuhan yang luar biasa. Cermin itu adalah hati manusia. Ketika sambungan material perunggu dan lapisan karat pada hasrat dirinya dilenyapkan dari permukaan cermin hati, maka hati manusia akan mampu memantulkan keindahan Ilahi. Cermin keberadaan manusia lantas dapat menahan untuk melawan sinar yang muncul dari Ketuhanan. Dan tujuan Tuhan didalam penciptaan kemudian akan terselesaikan, karena Tuhan lantas akan mampu melihat pantulan diri-Nya dan mengetahui diri-Nya.
(Jalalludin Rumi)
Serupa dengan cerita itu, suatu ketika manusia akan ditanyai Tuhan tentang hadiah apa yang akan dibawanya dari persinggahan di dunia ini. Satu-satunya jawaban yang mampu dibuat manusia tanpa akan menjadikan rasa kehinaan adalah menghadiahi Tuhan dengan cermin mengkilap sempurna. Cermin itu akan memantulkan keindahan Tuhan yang luar biasa. Cermin itu adalah hati manusia. Ketika sambungan material perunggu dan lapisan karat pada hasrat dirinya dilenyapkan dari permukaan cermin hati, maka hati manusia akan mampu memantulkan keindahan Ilahi. Cermin keberadaan manusia lantas dapat menahan untuk melawan sinar yang muncul dari Ketuhanan. Dan tujuan Tuhan didalam penciptaan kemudian akan terselesaikan, karena Tuhan lantas akan mampu melihat pantulan diri-Nya dan mengetahui diri-Nya.
(Jalalludin Rumi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar